Tampilkan postingan dengan label Pharmacist. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pharmacist. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Mei 2014

Penyakit Lepra dan Pengobatannya (Leprostatika)

Lepra atau kusta adalah suatu infeksi kronis yang terutama merusak jaringan-jaringan syaraf. Pembangkitnya adalah Mycobacterium leprae ditemukan oleh dokter Norwegia Hansen (1873), memiliki sifat mirip basil TBC yaitu sangat ulet karena mengandung banyak lemak dan lilin yang sukar ditembusi obat, juga pertumbuhannya lambat sekali setelah waktu inkubasi yang lama, lebih kurang 1 tahun.
Di Indonesia terdapat kurang lebih 100.000 pasien lepra yang diobati di sejumlah rumah sakit khusus (Leproseri) yang diawasi oleh Lembaga Kusta Departemen Kesehatan.

Gejala
Gejala dan  tanda yang muncul tergantung pada respon kekebalan tubuh penderita. Lepra terutama mengenai kulit dan saraf tepi. Gejala yang muncul berupa benjolan dan ruam yang khas. Infeksi pada syaraf membuat kulit menjadi mati rasa atau otot menjadi lemah.
Gejala spesifik yang muncul bervariasi tergantung jenis lepra, yaitu :
  • Lepra Tuberkuloid
    •  muncul ruam pada kulit yang terdiri dari satu atau beberapa area putih yang datar.
  • Lepra Lepromatosa
    •  muncul banyak benjolan kecil berbagai bentuk dan ukuran pada kulit. Terdapat banyak daerah yang mengalami mati rasa dan mungkin terjadi kerontokan pada rambut.
  • Lepra Perbatasan ( Bordline)
    •  memili kedua gambaran kedua bentuk lepra, jika keadaannya membaik ia akan menyerupai tuberkuloid. Jika keadaannya memburuk, akan menyerupai lepra lepromatosa.
Pencegahan
Tes Lepromin adalah suatu injeksi intrakuntan dari suspensi jaringan lepra dan digunakan untuk menetapkan apakah seseorang memiliki daya tangkis cukup terhadap lepra bentuk L. Hasil tes negatif berarti orang tersebut sangat peka untuk infeksi dengan bentuk tersebut.
Pada tahun 1965 telah dibuktikan di Uganda, bahwa vaksinasi BCG memberikan perlindungan yang lumayan baik terhadap infeksi dengan bentuk

Pengobatan
Sejak dahulu kala obat satu-satunya terhadap lepra adalah minyak kaulmogra yang efektif untuk meredakan gejala-gejalanya tanpa menyembuhkan penyakit.
Pada tahun 1950 ditemukan dapson yang mampu menghentikan pertumbuhan basil lepra yang kemudian lama-kelamaan akan dimusnahkan oleh sistem tangkis tubuh sendiri, Kemudian ditemukan leprostatiska lain antara lain : thiambutosin, klofazimin, rifampisin
WHO menganjurkan sebagai terapi pilihan peratama suatu kombinasi dari dapson dengan klofazimin selama sekurang-kurangnya 6 bulan.

Efek samping
Yang terpenting adalah reaksi lepra yaitu suatu reaksi alergi yang diakibatkan oleh basil mati yang berjumlah besar di dalam jaringan. Gejala berupa demam tinggi, radang dan nyeri sendi, rasa lelah dan habis tenaga. Semula diduga bahwa reaksi ini merupakan efek samping dapson tetapi ternyata dapat juga ditimbulkan oleh leprostatiska lainnya kecuali klofazimin.
Untuk mengatasi gejala ini obat lepra sering dikombinasikan dengan asetosal atau sedativa atau jika lebih hebat bisa diberikan zat supresif seperti kortikosteroid. Obat lepra tidak boleh dihentikan atau dikurangai dosisnya karena berhubungan degan bahaya resistensi.

Obat generik,Obat paten, indikasi, kontraindikasi, dan efek samping
  • Dapson 
    • Indikasi 
      •  Leprostatik kuat berdasarkan persaingan terhadap PABA
    • kontraindikasi  
      •   -
    • Efek samping    
      •  Sukar tidur dan anemia ringan, demikian pula agranulositosis
    • Sediaan            
      • Dapson (generik) tablet 50mg dan 100mg
    • Merk Dagang         
      • Dapson (Pabrik : Indofarma)
  • Rifampisin
    • Indikasi 
      • Pengobatan tuberculosis, lepra, meningitis
    • Kontraindikasi
      • Pasien kelainan hati, wanita hamil, dan menyusui
    • Efek samping 
      • Mual, muntah, diare, pusing, gangguan penglihatan
    • Sediaan 
      • Rifampisin (generik), kapsul 300mg, 450mg, kaptab 600mg
    • Merk Dagang
      • Rifabiotic (Pabrik : Benofarm), Rifamtibi (Pabrik : Sanbe)
  • Klofazimin
    • Efek samping 
      • gatal-gatal, kulit kering, gangguan lambung-usus, perubahan warna rambut, dll
    • Merk Dagang
      • Lamprene (Pabrik : Novartis) 
Sumber : Buku Farmakologi kls X (SMK F Nasional Ska)


Jumat, 09 Mei 2014

Epilepsi

  • Pengertian
    • Epilepsi dari bahasa Yunani berarti kejang atau di Indonesia dikenal ayan, adalah gangguan syaraf yang timbul secara tiba-tiba dan berkala biasanya disertai perubahan kesadaran.
  • Jenis - jenis epilepsi
    • Grand Mal (tonik-klonik umum)
      • Timbul serangan yang dimulai dengan kejang - kejang otot hebat dengan pergerakan kaki tangan tak sadar yang disertai jeritan, mulut berbusa, mata membeliak, dll disusul dengan pingsan dan sadar kembali .
    •  Petit Mal 
      • Serangannya hanya singkat sekali tanpa disertai kejang. Dalam kasus ini bila serangan berlangsung berturut-turut dengan cepat dapat juga terjadi status epileptikus
    • Psikomotor
      • Kesadaran terganggu hanya sebagian tanpa hilangnya ingatan dengan memperlihatkan perilaku otomatis seperti gerakan menelan atau berjalan dalam lingkaran.

  • Tujuan penggunaan obat pada penderita epilepsi
    • Menghindari kerusakan sel-sel syaraf
    • Mengurangi beban sosial dan psikologi pasien maupun keluarganya
    • Profilaksis / pencegahan sehingga jumlah serangan berkurang

Jumat, 21 Maret 2014

ANTELMINTIKA (OBAT CACING)

Antelmintik atau obat cacing adalah obat yang digunakan untuk memberantas cacing yang ada di dalam tubuh manusia dan hewan . Penyakit cacingan  (helminthiasis) tidak hanya diderita oleh anak-anak tetapi bisa juga menyerang orang dewasa .
Cacingan merupakan penyakit khas daerah tropis dan subtropis dan biasanya meningkat ketika musim hujan.
Kadang cacingan tidak memiliki gejala yang khas tetapisebagian penderitanya menampakkan tanda kurang nafsu makan , perut membuncit ,badan lesu , dan tampak kurus .
Cacingan dapat mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan , gizi , dan kecerdasan penderitannya sehingga dipandang sangat merugikan .

Cacing penyebab penyakit antara lain :
  1. Ascariasis lumbricoides (Cacing gelang) 


  • Ascariasis lumbricoides menyebabkan penyakit cacingan dengan istilah Ascariasis . Manusia dapat menjadi hospes (tempat hidup) cacing ini . Cacing ini berbentuk bulat yang dapat mencapai ukuran cukup besar . Cacing jantan berukuran 10-30cm , sedangkan betina 22-35cm , pada stadium dewasa hidup di rongga usus halus , cacing betina dapat bertelur sampai 100.000-200.000 butir sehari.
  •  Gejala :
    • Rasa tidak enak pada perut , mual , sering kembung (gangguan lambung) dan muntah-muntah.
    • Kehilangan napsu makan , kejang perut , diselingi diare.
    • Demam, kekurangan gizi sehingga kehilangan berat badan .
  •  Obat Pilihan 
    1. Pirantel pamoat , dapat menimbulkan depolarisasi otot cacing dan meningkatkan frekuensi impuls , sehingga cacing mati dalam keadaan spatis . Dosis diberikan 10mg pirantel bisa tiap kg berat badan diberikan secara oral dosis tunggal . 
    2. Mebendazol juga efektif terhadap ascariasis . Cacing akan mati secara perlahan-lahan dan hasil yang memuaskan baru tampak setelah 3 hari pengobatan .
    3. Piperazin biasanya dalam bentuk garam sitrat , fosfat , adipat , atau sitrat . Cacing biasanya keluar setelah 1-3 hari pemberian obat ini .
    4. Levamisol sangat efektif terhadap ascariasis . Obat ini ditoleransi dengan sangat baik . Efek samping sekitar 1% pasien .   

Rabu, 26 Februari 2014

Antibiotik


Antibiotika  berasal dari dua kata yaitu anti : lawan dan bios  : hidup. Antibiotik adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil.
 
Kegiatan antibiotik untuk pertama kalinya ditemukan secara kebetulan oleh dr. Alexander Fleming (Inggris, 1928, penisilin). Tetapi penemuan ini baru dikembangkan dan digunakan di tahun 1941 (perang Dunia II), ketika obat-obat antibakteri sangat diperlukan untuk menanggulangi infeksi dari luka-luka akibat pertempuran.

Penyebab timbulnya resistensi antibiotika yang terutama adalah : 

  1. Tidak tepat sasaran, salah satunya adalah pemberian antibiotika pada pasien yang bukan menderita penyakit infeksi bakteri. Walaupun menderita infeksi bakteri, antibiotika yang diberikan pun harus dipilih secara seksama. Tidak semua antibiotika ampuh terhadap bakteri tertentu. Setiap antibiotika mempunyai daya bunuh terhadap bakteri yang berbeda-beda. Karena itu, antibiotika harus dipilih dengan seksama.
  2. Tidak tepat dosis dapat menyebabkan bakteri tidak terbunuh, bahkan justru dapat merangsangnya untuk membentuk turunan yang lebih kuat daya tahannya sehingga resisten terhadap antibiotika.
  3. Karena itu, jika dokter memberikan obat antibiotika, patuhilah petunjuk pemakaiannya dan harus diminum sampai habis.
  4. Pemakaian antibiotika tidak boleh sembarangan, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Itu sebabnya, antibiotika tidak boleh dijual bebas melainkan harus dengan resep dokter.
  5. Terlalu sering mengonsumsi antibiotika juga berdampak buruk pada ''bakteri-bakteri baik'' yang menghuni saluran pencernaan kita. Bakteri-bakteri tersebut dapat terbunuh, padahal mereka bekerja membuat zat-zat yang bermanfaat bagi kesehatan kita.
10 Hal Tentang Antibiotika

Antibiotika tentu bukan sesuatu yang asing. Namun, bagaimana antibiotika selayaknya digunakan, tak semua orang tahu.
  1. Apa sebetulnya manfaat antibiotika? Antibiotika adalah senyawa kimia yang dibuat untuk melawan bibit penyakit, khususnya kuman. Ada beragam jenis kuman, ada kuman yang besar, ada yang kecil, dengan sifat yang beragam pula. Kuman cenderung bersarang di organ tertentu di tubuh yang ditumpanginya. Ada yang suka di otak, di paru-paru, di usus, saraf, ginjal, lambung, kulit, atau tenggorok, dan lainnya. Di organ-organ tempat bersarangnya itu, kuman tertentu menimbulkan infeksi. Kuman tipus menimbulkan penyakit tipus di usus, kuman TBC di paru-paru, selain bisa juga di tulang, ginjal, otak, dan kulit. Kuman lepra di saraf dan kulit, kuman difteria di tenggorokan, tetanus di saraf, dan banyak lagi. Awalnya, ditemukan jenis antibiotika penisilin, lalu sulfa, yang digunakan untuk mengobati semua penyakit infeksi. Sekarang, sudah berpuluh-puluh jenis antibiotika ditemukan, baik dari rumpun yang sama, maupun dari jenis yang lebih baru. Setiap antibiotika memiliki kemampuannya sendiri dalam melawan kuman. Itu sebab, setiap rumpun kuman memiliki penangkalnya masing-masing yang spesifik. Namun, kebanyakan antibiotika bersifat serba mempan atau broadspectrum. Artinya, semua kuman dapat dibasminya. Selain itu, ada pula jenis antibiotika yang sempit pemakaiannya, spesifik hanya untuk kuman-kuman tertentu saja. Misalnya, antibiotika untuk kuman TBC (mycobacterium tuberculosis), untuk lepra atau kusta (mycobaterium leprae), atau untuk tipus (salmonella tyhphi).
  2. Kapan antibiotika digunakan? Antibiotika digunakan jika ada infeksi oleh kuman. Infeksi terjadi jika kuman memasuki tubuh. Kuman memasuki tubuh melalui pintu masuknya sendiri-sendiri. Ada yang lewat mulut bersama makanan dan minuman, lewat udara napas memasuki paru-paru, lewat luka renik di kulit, melalui hubungan kelamin, atau masuk melalui aliran darah, lalu kuman menuju organ yang disukainya untuk bersarang. Gejala umum tubuh terinfeksi biasanya disertai suhu badan meninggi, demam, nyeri kepala, dan nyeri. Infeksi di kulit menimbulkan reaksi merah meradang, bengkak, panas, dan nyeri. Contohnya bisul. Di usus, bergejala mulas, mencret. Di saluran napas, batuk, nyeri tenggorok, atau sesak napas. Di otak, nyeri kepala. Di ginjal, banyak berkemih, kencing merah atau seperti susu. Namun, gejala suhu tubuh meninggi, demam, nyeri kepala, dan nyeri, bisa juga bukan disebabkan oleh kuman, melainkan infeksi oleh virus atau parasit. Dari keluhan, gejala dan tanda, dokter dapat mengenali apakah infeksi disebabkan oleh kuman, virus, atau parasit. Penyakit yang disebabkan bukan oleh kuman tidak mempan diobati dengan antibiotika. Untuk virus diberi antivirus, dan untuk parasit diberi antinya, seperti antimalaria, antijamur, dan anticacing. Jika infeksi oleh jenis kuman yang spesifik, biasanya dokter langsung memberikan antibiotika yang sesuai dengan kuman penyebabnya. Misal bisul di kulit, tetanus, difteria, tipus, atau infeksi mata merah. Untuk infeksi yang meragukan, diperlukan pemeriksaan khusus untuk memastikan jenis kuman penyebabnya. Caranya dengan melakukan pembiakan (kultur) kuman. Bahan biakannya diambil dari darah atau air liur, dahak, urine, tinja, cairan otak, nanah kemaluan, atau kerokan kulit. Dengan biakan kuman, selain menemukan jenis kumannya, dapat langsung diperiksa pula jenis antibiotika yang cocok untuk menumpasnya (tes resistensi). Dengan demikian, pengobatan infeksinya lebih tepat. Jika tidak dilakukan tes resistensi, bisa jadi antibiotika yang dianggap mampu sudah tidak mempan, sebab kumannya sudah kebal terhadap jenis antibiotika yang dianggap ampuh tersebut.
  3. Kenapa semakin banyak kuman yang kebal antibiotika? Pemakaian antibiotika di negara-negara sedang berkembang sering tidak terkontrol dan cenderung serampangan. Antibiotika yang bisa dibeli bebas, ketidaktahuan pemakaian, dan tidak dipakai sampai tuntas, menimbulkan generasi kuman yang menjadi kebal (resisten) terhadap antibiotika yang digunakan secara tidak tepat dan serampangan itu. Pemakaian antibiotika yang tidak dihabiskan, atau menebusnya setengah resep, misalnya. Semakin sering dan banyak disalahgunakan suatu antibiotika, semakin cepat menimbulkan kekebalan kuman yang biasa ditumpasnya. Pemakaian antibiotika golongan erythromycine yang paling banyak dan luas dipakai di dasawarsa 80-an, semakin banyak melahirkan generasi kuman yang kebal terhadapnya. Lalu, dibuat generasi baru dari rumpun yang sama. Setiap beberapa tahun, lahir jenis generasi antibiotika baru untuk membasmi jenis kuman yang sudah kebal. Tentu, dengan harga yang lebih mahal.
  4. Apa efek samping antibiotika? Seperti obat umumnya, antibiotika juga punya efek samping masing-masing. Ada yang berefek buruk terhadap ginjal, hati, ada pula yang mengganggu keseimbangan tubuh. Dokter mengetahui apa efek samping suatu antibiotika, sehingga tidak diberikan pada sembarang pasien. Pasien dengan gangguan hati, misalnya, tidak boleh diberikan antibiotika yang efek sampingnya merusak hati, sekalipun ampuh membasmi kuman yang sedang pasien idap. Dokter perlu memilihkan antibiotika lain, mungkin kurang ampuh, namun tidak berefek pada hati.Namun, jika suatu antibiotika tidak ada penggantinya, antibiotika tetap dipakai, dengan catatan, bahaya efek samping pada seorang pasien memerlukan monitoring oleh dokter, jika dipakai untuk jangka waktu yang lama. Antibiotika untuk TBC, misalnya, yang diminum sedikitnya 6 bulan, perlu pemeriksaan fungsi hati secara berkala, agar jika sudah merusak hati, obat dipertimbangkan untuk diganti.
  5. Apa bahaya terlalu sering menggunakan antibiotika? Pemakaian antibiotika yang terlalu sering tidak dianjurkan. Di negara kita, orang bebas membeli antibiotika dan memakainya kapan dianggap perlu. Sedikit batuk pilek, langsung minum antibiotika. Baru mencret sekali, langsung antibiotika. Padahal belum tentu perlu. Kenapa? Belum tentu batuk pilek disebabkan oleh kuman. Awalnya oleh virus. Jika kondisi badan kuat, penyakit virus umumnya sembuh sendiri. Yang perlu dilakukan pada penyakit yang disebabkan oleh virus adalah memperkuat daya tahan tubuh dengan cukup makan, istirahat, dan makanan bergizi. Pemberian antibiotika pada batuk pilek yang disebabkan oleh virus hanya merupakan penghamburan dan merugikan badan, sebab memikul efek samping antibiotika yang sebetulnya tak perlu terjadi.Kasus batuk pilek virus yang sudah lama, yang biasanya sudah ditunggangi oleh kuman, baru membutuhkan antibiotika untuk membasmi kumannya, bukan untuk virus flunya. Tanda batuk pilek membutuhkan antibiotika adalah dengan melihat ingusnya. Yang tadinya encer bening sudah berubah menjadi kental berwarna kuning-hijau. Selama ingusnya masih encer bening, antibiotika tak diperlukan. Minum antibiotika kelewat sering juga mengganggu keseimbangan flora usus. Kita tahu, dalam usus normal tumbuh kuman yang membantu pencernaan dan pembentukan vitamin K. Selain itu, di bagian-bagian tertentu tubuh kita juga hidup kuman-kuman jinak yang hidup berdampingan dengan damai dengan tubuh kita. Di kemaluan wanita, di kulit, di mulut, dan di mana-mana bagian tubuh ada kuman yang tidak mengganggu namun bermanfaat (simbiosis). Terlalu sering minum antibiotika berarti membunuh seluruh kuman jinak yang bermanfaat bagi tubuh. Jika populasi kuman jinak yang bermanfat bagi tubuh terbasmi, keseimbangan mikroorganisme tubuh bisa terganggu, sehingga jamur yang tadinya takut oleh kuman-kuman yang ada di tubuh kita berkesempatan lebih mudah menyerang. Itu maka, banyak orang yang setelah minum antibiotika yang kelewat lama, kemudian terserang penyakit jamur. Bisa jamur di kulit, usus, seriawan di mulut, atau di mana saja. Keputihan sebab jamur pada wanita, antara lain lantaran vagina kelewat bersih oleh antisepsis yang membunuh kuman bermanfaat di sekitar vagina (Doderlein).
  6. Berapa lama seharusnya konsumsi antibiotika? Lama pemakaian antibiotika bervariasi, tergantung jenis infeksi dan kuman penyebabnya. Paling sedikit 4-5 hari. Namun, jika infeksinya masih belum tuntas, antibiotika perlu dilanjutkan sampai keluhan dan gejalanya hilang. Pada tipus, perlu beberapa minggu. Demikian pula pada difteria, tetanus. Pling lama pada TBC yang memakan waktu berbulan-bulan. Termasuk pada kusta.Pada infeksi tertentu, setelah pemakaian antibiotika satu kir, perlu dilakukan pemeriksaan biakan kuman ulang untuk memastikan apakah kuman sudah terbasmi tuntas. Infeksi saluran kemih, misalnya, setelah selesai satu kir antibiotika dan keluhan gejalanya sudah tiada, biakan kuman dilakukan untuk melihat apa di ginjal masih tersisa kuman. Jika masih tersisa kuman dan antibiotikanya tidak dilanjutkan, penyakit infeksinya akan kambuh lagi.Termasuk pada infeksi gigi. Sakit gigi biasanya disebabkan oleh adanya kuman yang memasuki gusi dan tulang rahang melalui gigi yang bolong atau keropos. Dalam keadaan demikian, gusi membengkak dan gigi nyeri. Antibiotika diberikan sampai keluhan nyeri gigi hilang. Jika antibiotika hanya diminum sehari-dua, kuman di dalam gusi belum mati semua, sehingga infeksi gusi dan sakit gigi akan kambuh lagi.
  7. Kenapa antibiotika bisa tidak mempan?Antibiotika tidak mempan karena dua hal. Yang paling sering, kuman penyebab penyakitnya sudah kebal terhadap antibiotika tersebut. Untuk itu perlu dicari antibiotika jenis lain yang lebih sensitif. Biasanya perlu dilakukan tes resistensi mencari jenis antibiotika yang tepat.Yang kedua karena tidak dilakukan tes resistensi dulu dan langsung diberikan antibiotika secara acak, sehingga kemungkinan pilihan antibiotikanya tidak tepat untuk jenis kuman penyebab penyakitnya. Antibiotikanya memang tidak mempan terhadap kuman penyebabnya. Kita mengenal ada kuman jenis gram-negatif. Untuk itu perlu antibiotika untuk jenis kuman itu. Jika diberikan antibiotika untuk jenis kuman gram-positif, tentu tidak akan mempan, sebab antibiotikanya salah sasaran. Atau bisa oleh karena infeksinya bukan disebabkan oleh kuman, melainkan oleh virus atau parasit. Jamur kulit tak mempan diberi salep atau krim antibiotika, misalnya. 
  8. Apa artinya antibiotika yang keras? Artinya tidak perlu antibiotika dari generasi yang baru, kalau dengan antibiotika klasik (golongan penicillin) masih mempan. Namun, untuk infeksi ringan saja (flu), seringkali diberikan antibiotika generasi mutakhir. Selain jauh lebih mahal, tubuh pun memikul efek samping yang biasanya lebih berat. Semakin ampuh antibiotika, biasanya semakin keras pula efek sampingnya. Membunuh lalat tak perlu pakai panah, cukup ditepuk. Begitu pula untuk infeksi enteng. Kalau bisa, jangan lekas-lekas memakai antibiotika. Tubuh kita memiliki perangkat antibodi. Setiap bibit penyakit, apa pun jenisnya, yang masuk ke dalam tubuh, akan dibasmi oleh sistem kekebalan tubuh sendiri. Tubuh baru menyerah kalah jika bibit penyakitnya sangat ganas, jumlahnya banyak, dan dayatahan tubuh sedang lemah. Tidak setiap kali dimasuki bibit penyakit, tubuh kita akan jatuh sakit. Jika kekebalan tubuh prima, bibit penyakit yang sudah memasuki tubuh akan gagal menginfeksi, dan kita batal jatuh sakit. Infeksi umumnya baru terjadi jika tubuh sedang lemah. Untuk itu, perlu bantuan zat anti yang dikirim dari luar. Kiriman zat anti dari luar itulah yang diperankan oleh antibiotika.
  9. Kenapa orang bisa pingsan usai minum atau disuntik antibiotika? Adakalanya, sehabis minum atau disuntik antibiotika bisa pingsan. Orang-orang tertentu yang berbakat alergi, umumnya tidak tahan terhadap antibiotika golongan penisilin, baik yang diminum maupun yang disuntikkan. Beberapa menit sampai beberapa jam sesudahnya muncul reaksi alergi. Rasa tebal dan gatal di bibir, pusing, mual, muntah, lalu pingsan. Jika ringan hanya gatal-gatal mirip biduran. Reaksi hebat bisa menimbulkan reaksi kulit melepuh, berbisul-bisul (Steven-Johnson syndrome). Bagi yang berbakat alergi, perlu dites dulu sebelum mendapat suntikan antibiotika golongan penisilin. Jika positif, jangan diberikan. Atau jika pernah ada riwayat gatal sehabis minum atau disuntik antibiotika, buatlah catatan, agar lain kali dapat mengingatkan dokter kalau tidak tahan antibitioka tersebut. Sekarang reaksi alergi terhadap antibiotika sudah jarang terjadi, sebab tersedia banyak pilihan antibiotika yang lebih unggul dari penisilin tanpa risiko alergi.
  10. Apakah semua antibiotika hanya untuk diminum? Tidak. Selain dalam bentuk obat minum (oral), ada juga dalam bentuk suntikan (parenteral), salep, krim, supositoria (dimasukkan ke liang dubur atau vagina); lotion, dan tetes. Infeksi kulit memakai salep atau krim antibiotika, infeksi mata merah memakai tetes atau salep mata, infeksi telinga tengah memakai tetes kuping antibiotika, keputihan kuman dipakai antibiotika berbentuk peluru yang dimasukkan ke dalam vagina (bagi yang sudah menikah, tidak buat yang masih gadis). Antibiotika streptomycine, garamycine, hanya dalam bentuk suntikan, tidak tersedia dalam bentuk tablet atau kapsul. Sebaliknya, kebanyakan antibiotika yang diminum belum tentu ada dalam bentuk suntikannya. Tapi, ada juga antibiotika baik dalam bentuk suntikan maupun yang diminum. Membubuhi serbuk antibiotika pada lubang gigi yang sakit seperti kebiasaan sementara orang atau pada luka, tidak terlalu tepat. Efek penembusan antibiotika ke jaringan gusi yang terinfeksi tidak sebaik jika diminum, atau bisa menyerap optimal seperti antibiotika yang sudah dalam bentuk salep atau krim jika untuk dipakai pada kulit.